Kolaka Terkini

Jadi Pembunuh Paling Kejam, Waspadai Hipertensi Tanpa Keluhan

“Silent killer” yang masih sering di abaikan

Oleh : Syahrah Annisa Monstavevi S Farm. 

(Mahasiswi Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Halu Oleo)

Hipertensi merupakan salah satu penyakit paling sering yang diderita manusia dan merupakan faktor resiko utama terjadinya stroke, serangan jantung, penyakit pembuluh darah dan gagal ginjal. Karena angka kesakitan dan kematian serta beban biaya yang tinggi, maka pencegahan dan pengobatan hipertensi merupakan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat.

Jumlah penderita hipertensi di Indonesia cukup tinggi berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas., 2018) prevelensi hipertensi di Indonesia 34,14. Hampir separuh penderita hipertensi tidak mengetahui bahwa dinnya mendenta hipertensi. Seorang dikatakan mengidap hipertensi bila tekanan darah sistolik >130 mmHg atau diastolik 80 mmHg. Banyak Kondisi pasien bahan dalam kondisi hipertensi urgensi yakni tekanan darah 180/20 mmHg atau lebih, namun tidak merasakan pusing atau keluhan lainnya. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena jika tidak ada upaya untuk menurunkan tekanan darah maka mengakibatkan adanya kerusakan organ lebih lanjut juga memicu kondisi kegawatdaruratan.

Kemungkinan seseorang mengidap hipertensi akan semakin meningkat seiring bertambahnya usia, terlebih untuk mereka dengan usia diatas 65 tahun. Faktor resiko hipertensi lainnya antara lain kelebihan berat badan (obesitas), adanya riwayat hipertensi dalam keluarga (genetik), jarang berolahraga, mengkomsi banyak garam, kopi dan alkohol.

Kementrian kesehatan menghimbau berperilaku CERDIK untuk pencegahan hipertensi, yakni: Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet tidak seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stress.

Kebanyakan orang dengan hipertens tidak disertai dengan gejala atau keluhan tertentu. Namun, ada pula yang bergejala dimana yang paling senng dirasakan adalah sakit kepala, pusing, jantung berdebar, rasa sakit di dada, gelisah, sesak nafas, lemas, mudah lelah, dan pengelihatan kabur. Maka bagi penderita hipertensi, konsumsi obat harus dilakukan untuk mengatur tekanan darah meskipun pengobatan spertensi yang utama adalah mengubah gaya hidup Pasien dengan hipertemsi yang tidak diobati atau tidak terkontrol akan meningkatkan resiko terjadinya pengerasan pembuluh darah 30% penderita dalam kurun waktu 8-10 tahun.

Efek sampng dari konsumsi obat hipertensi juga akan menjadi perhatian. Tentunya jenis obat , dosis dan kapan waktu yang tepat untuk menghentikan obatobatan tekanan darah harus dikonsultasikan ke dokter. Berdasarkan beberapa penelitian, modifikasi diet terbukti dapat menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Prinsip diet yang dianjurkan adalah gizi seimbang, yakni dengan membatasi gula dan garam. Lalu memperbanyak konsumsi uah, sayuran, kacang kacangan dan byibyian lalu mengkonsumsi makanan rendah lemak jenuh antara lain unggas dan ikan yang berminyak.

Patutlah kita semua menyadari bahwa hipertensi yang tidak terkontrol akan menjadi “Silent Killer” dengan menyebabkan kerusakan organ dengan mengancam nyawa Benar adanya jika nyawa kita sudah ada batas, namun tidakkah kita ingin menjadikan kehidupan kita lebih berkualitas dan bermakna?























Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button